ngenet dapet duit disini

Powered By Blogger

Rabu, 21 Oktober 2009

A WOMAN SHOULD HAVE AND KNOW...

WOMAN SHOULD HAVE ....
enough money within her control to move out and rent a place of her own even if she never wants to or needs to...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
something perfect to wear if the employer or date of her dreams wants to see her in an hour...

A WOMAN SHOULD HAVE ...
a youth she's content to leave behind....

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a past juicy enough that she's looking forward to retelling it in her old age....

A WOMAN SHOULD HAVE .....
a set of screwdrivers, a cordless drill, and a blacklace bra...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
one friend who always makes her laugh... and one who lets her cry...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a good piece of furniture not previously owned by anyone else in her family...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
eight matching plates, wine glasses with stems, and a recipe for a meal that will make her guests feel honored...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a feeling of control over her destiny...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to fall in love without losing herself..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
HOW TO QUIT A JOB, BREAK UP WITH A LOVER, AND CONFRONT A FRIEND WITHOUT RUINING THE FRIENDSHIP...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
when to try harder... and WHEN TO WALK AWAY...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that she can't change the length of her calves, the width of her hips, or the nature of her parents..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that her childhood may not have been perfect...but its over...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she would and wouldn't do for love or more...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to live alone... even if she doesn't like it...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
whom she can trust, whom she can't, and why she shouldn't take it personally...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
where to go...be it to her best friend's kitchen table... or a charming inn in the woods...when her soul needs soothing...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she can and can't accomplish in a day...a month...and a year...


boim
www.mbahroso-roso.blogspot.com

Senin, 19 Oktober 2009

Jahiliyahnya Aku Dan Bangsaku

Gempa, tsunami, lumpur panas, apalagi yang akan menimpa bangsa ini ? Dan seakan peringatan tersebut hanya angin lalu. Kaget sejenak, tapi kembali meneruskan kebiasaan dan prilaku jahiliyah kita. Mulai dari pejabat tinggi, rakyat kecil, pria, wanita, kaya, miskin. Dan semua itu seakan sudah biasa, sudah dimaklumi, tidak menjadi beban pikiran kita.

Yang jabatannya tinggi korupsi sudah biasa, kolusi biasa saja, nepotisme apalagi, khan sesama saudara atau kerabat harus saling menolong.

Yang jabatannya menengah, kalau menyuap atau terima suap, biasa aja, biar urusannya cepat. Korupsi kecil-kecilan, bolehlah asal dalam batas kewajaran dan bagi-bagi.

Yang rakyat kecil, meracuni orang pakai formalin atau zat pewarna tidak apa-apa, biar keuntungan agak meningkat, khan konsumennya nggak tau ini.

Yang menuntut keadilan, kalau punya uang, suap sana suap sini wajar-wajar saja, biar menang di pengadilan.

Yang dituntut, juga wajar kalau suap sana suap sini biar menang juga.

Yang mengadili, terima suap dari sana dari sini biar penghasilannya nambah sedikit, wajar khan ?

Yang jadi pengacara pintar ngomong kelit sana sini pake argumen hukum positif, yang penting menang.

Yang ditangkap pihak berwajib, suap sana suap sini biar nggak diproses hukum.

Yang menangkap, terima suap dari sana sini untuk nambah biaya operasional, soalnya dana operasional sudah dipotong sana sini.

Yang demo menuntut keadilan bagi dirinya, berbuat tidak adil dengan menutup jalan raya, merusak sarana umum atau properti milik orang lain.

Yang demo menuntut demokrasi, secara tidak demokratis memaksa pihak lain mengikuti kehendaknya.

Yang jadi calon kepala daerah, obral janji sana sini, obral duit sana sini. Tidak apa-apa keluar biaya, kan nanti BEP-nya cepat kalau menang.

Yang jadi pendukung maksa orang lain untuk ikut mendukung. Padahal dia cuma dibayar untuk jadi pendukung. Dia tau nggak sih, seandainya yang dia dukung menang, kalau dia tadinya tukang ojek, ya tetep aja jadi tukang ojek.

Yang modalnya kuat menggusur pasar tradisional untuk dibikin mall.

Yang modalnya lemah buka lapak dijalanan, tidak peduli jalanan jadi macet, kotor dan menggangu hak para pemakai jalan. Kalau ada tramtib kita lawan, sebab hak kita untuk berdagang mau diambil.

Yang mobilnya mewah atau cc besar kalau dijalan tol harus di kanan, tidak boleh ada yang menghalangi, jadi kalau ada mobil lain di depan ambil kanan sebentar, mau nyusul kendaraan lain, harus di kasih lampu beam dengan gencar, atau diintimidasi dengan memepetkan diri dibelakangnya tinggal jarak sejengkal. Soalnya ngelunjak, mobil murahan aja mau jalan di kanan, menghalangi mobil gue yang super cepat. Kalau tolnya padat, ya tidak apa-apa toh, ngambil bahu jalan, semua orang udah pada maklum.

Yang mobilnya biasa atau sudah reyot jalan santai di sisi kanan tol.

Dijalan bukan tol, sodok-sodokan adu berani sudah jadi pemandangan umum. Apalagi kalau kendaraannya besar. Mana ada yang berani sama gue yang lagi bawa bis kota ? Jadi kalau potong ke kiri atau ke kanan, mobil atau motor yang kecil–kecil itu harus minggir dong kalau nggak mau kelindas. Lagipula gue butuh ngejar setoran, jadi kalau jalannya ngebut ya harus dimaklumi dong. Dimanapun ada calon penumpang, gue harus berhenti, walaupun ditengah jalan.

Yang bawa angkot ngetem atau ngambil penumpang ditengah jalan. Kalau jalanan lagi macet, ya gue ambil jalur lawan, terus gue kebut, bodo amat jalanan dibelakang jadi tambah macet, yang penting gue udah didepan.

Yang naik mobil pribadi, tidak boleh ada yang nyalip atau minta jalan. Harus gue kejar, gue tambah kecepatan gue, biar dia nggak seenaknya aja. Tapi kalau gue nyalip atau minta jalan, kendaraan lain harus ngasih jalan dong, jadi gue sodok aja mobil gue ke depan.

Yang naik motor, yang penting gue kan udah pakai helm. Jadi ya nggak apa-apa dong kalau gue nerobos lampu merah, naik trotoar, potong sana potong sini. Kalau gue lagi nggeber gas, mobil atau motor lain harus minggir, jangan menghalangi. Apalagi orang nyeberang, jangan sampai dah mengganggu jalan gue, gue tidak akan mengurangi kecepatan motor gue, jadi tu orang yang mau nyeberang harus lari kalau nggak mau keserempet.

Yang jalan kaki, nyeberang jalan di bawah jembatan penyeberangan.

Yang jadi bankir terima imbalan waktu ngasih kredit.

Yang jadi debitur ngasih angpau ke bankir biar kreditnya disetujui.

Yang jadi auditor terima suap biar temuan kasus bisa didrop.

Yang jadi auditee kasih suap biar kasusnya bisa ditutup.

Yang meriksa pajak terima uang untuk menurunkan jumlah pajak wajib pajak.

Yang wajib bayar pajak ngasih uang ke pemeriksa pajak biar jumlah pajaknya turun.

Yang nulis ini kelakuannya ya kayak kalimat-kalimat di atas.

Yang mbaca tulisan ini, mudah-mudahan tidak seperti itu ya ?

Anak Yang Hilang

Seorang gadis muda tumbuh di perkebunan ceri tidak jauh dari Traverse City, Michigan. Orang tuanya sedikit kolot, cenderung bereaksi berlebihan pada cincin di hidungnya, musik yang ia dengarkan dan panjang roknya. Mereka menghukumnya beberapa kali, dan ia memendam kejengkelan dalam hati.

“Saya benci Ayah!”, teriaknya ketika ayahnya mengetuk pintu kamarnya setelah sebuah pertengkaran, dan malam itu ia menjalankan rencana yang sudah ia pikirkan puluhan kali. Ia melarikan diri. Ia baru sekali ke Detroit sebelumnya, dalam perjalanan dengan bis bersama kelompok remaja gerejanya untuk menyaksikan permainan tim Tigers. Karena surat kabar di Traverse City sering memberitakan tentang geng, obat terlarang, dan kekerasan di pusat kota Detroit dengan sangat rinci, ia menyimpulkan pasti orang tuanya tidak akan mencarinya ke sana. California mungkin, atau Florida, tapi tidak Detroit.

Pada hari kedua ia di sana, ia bertemu seorang pria yang mengemudikan mobil paling besar yang pernah dilihatnya. Pria itu menawarkan untuk mengantarnya, membelikan makan siang, dan mengatur agar ia punya tempat tinggal. Ia memberi gadis ini beberapa pil yang membuatnya belum pernah merasa seenak ini. Ternyata selama ini ia memang benar, pikir gadis itu: orangtuanya melarangnya menikmati segala kesenangan.

Kehidupan menyenangkan berlanjut satu bulan, dua bulan, setahun. Orang bermobil besar itu, ia memanggilnya BOS, mengajarinya beberapa hal yang disukai pria. Karena ia masih di bawah umur, pria membayar mahal untuknya. Ia tinggal di apartemen mewah, dan bisa memesan layanan kamar kapan saja. Sesekali ia teringat pada orang-orang di kampung halamannya, tapi hidup mereka sekarang tampak sangat membosankan dan kampungan sampai ia hampir tidak percaya ia tumbuh besar di sana. Ia sedikit takut ketika melihat fotonya di belakang kemasan susu dengan judul besar, “Apakah Anda pernah melihat anak ini?”.

Tapi sekarang rambutnya sudah pirang, dan dengan semua riasan wajah dan perhiasan yang ia kenakan, tidak akan ada yang menyangka ia masih anak-anak. Lagipula, kebanyakan temannya adalah remaja yang melarikan diri, dan tidak ada yang berkhianat di Detroit. Setelah setahun, tanda-tanda samar penyakit mulai muncul, dan ia terkejut melihat betapa cepat bosnya menjadi kejam.

“Jaman sekarang kita tidak bisa main-main,” geramnya, dan tiba-tiba saja, ia sudah berada di jalanan tanpa uang di kantungnya. Ia masih melakukan "pekerjaannya" beberapa kali semalam, tapi bayaran mereka kecil, dan semua uang itu habis untuk membiayai kecanduannya. Ketika musim dingin tiba, ia menemukan dirinya tidur di pagar logam di depan pusat pertokoan. "Tidur" adalah kata yang salah, gadis remaja ditengah kota Detroit malam hari tidak pernah bisa mengendorkan kewaspadaannya. Lingkar hitam mengelilingi matanya. Batuknya bertambah parah.

Suatu malam ia berbaring tanpa bisa tidur, sambil mendengarkan langkah kaki, tiba-tiaba seluruh kehidupannya tampak berbeda. Ia tidak lagi merasa menjadi wanita hebat. Ia merasa seperti anak kecil, tersesat di kota yang dingin dan menakutkan. Ia mulai menggigil. Kantungnya kosong dan ia lapar. Ia juga perlu obat terlarang. Ia melipat kakinya, dan gemetar di bawah lembaran surat kabar yang ditumpuk di atas mantelnya.

Sesuatu muncul begitu saja di pikirannya, dan satu gambaran terbayang di matanya: bulan Mei di Traverse City, ketika jutaan pohon ceri berbuah bersamaan, ia berlarian bersama anjing golden retriever miliknya. Mengejar bola tenis di antara barisan pohon berbunga. Tuhan, mengapa aku pergi, katanya dalam hati, dan rasa perih menghunjam jantungnya. Anjingku saja di rumah makan lebih enak daripada aku sekarang. Ia menangis, dan dalam sekejap ia tahu tidak ada yag lebih ia inginkan di dunia kecuali pulang. Tiga sambungan telepon, tiga kali dijawab mesin panjawab. Ia menutup telepon tanpa meninggalkan pesan dua kali pertama, tapi ketiga kalinya ia berkata, “Ayah, Ibu, ini aku. Aku berpikir mungkin aku akan pulang. Aku akan naik bis ke sana, dan aku akan sampai sekitar tengah malam besok. Kalau Ayah dan Ibu tidak datang, yah, mungkin aku akan terus naik bis sampai ke Kanada”.

Dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam dengan bis dari Detroit ke Traverse City, dan sepanjang jalan ia menyadari cacat-cacat dalam rencananya. Bagaimana kalau orangtuanya sedang keluar kota dan melewatkan pesan itu? Bukankah seharusnya ia menunggu satu dua hari sampai bisa berbicara langsung dengan mereka? Dan kalaupun mereka ada di rumah, mungkin mereka sudah lama menganggapnya mati. Seharusnya ia memberi waktu agar mereka bisa mengatasi rasa kagetnya. Pikirannya bolak-balik antara rasa khawatir dan kata-kata yang disusun untuk menyapa ayahnya.

“Ayah, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Bukan salah Ayah, semuanya salahku. Ayah, bisakah Ayah memaafkan aku?”

Ia mengucapkan pikiran itu berulang-ulang dalam hati, kerongkongannya tercekat bahkan ketika melatihnya. Sudah bertahun-tahun ia tidak minta maaf pada siapapun. Bis melaju dengan lampu menyala sejak Bay City. Butiran kecil salju yang berjatuhan di trotoar terlindas ribuan ban, dan aspal beruap. Ia lupa segelap apa malam hari disini. Seekor rusa berlari menyeberang jalan dan bis menghindarinya. Sesekali, ada billboard. Tanda yang menunjukkan jaraknya ke Traverse City. Ya, Tuhan. Ketika bis akhirnya berbelok ke stasiun, rem udaranya mendesis memprotes, pengemudi mengumumkan dengan suara serak lewat mikrofon.

“Lima belas menit, saudara-saudara. Kita hanya berhenti selama itu di sini.”

Lima belas menit untuk memutuskan hidupnya. Ia memeriksa dirinya di cermin lipat, merapikan rambutnya, dan menjilat lipstik dari giginya. Ia melihat noda tembakau di ujung-ujung jarinya dan berpikir apakah orangtuanya akan melihatnya. Kalau mereka datang. Ia berjalan ke dalam terminal. Tidak tahu harus mengharapkan apa. Tidak satu pun dari adegan yang ia siapakan di pikirannya bisa mempersiapkannya untuk apa yang dilihatnya. Di sana, di atas kursi-kursi plastik terminal bis Traverse City, Michigan, berdiri sekitar empat puluh saudara, paman, bibi, sepupu, nenek, nenek buyut. Mereka semua memakai topi kertas pesta dan gulungan kertas yang bisa ditiup, dan di dinding terminal ditempel spanduk yang dibuat dengan komputer bertuliskan, “Selamat pulang kembali!”

Di tengah kerumunan penyambut, muncul ayahnya. Ia memandang dengan mata perih dengan air mata sepanas air raksa, dan memulai sapaan yang sudah dihafalkan, “Yah, aku minta maaf. Aku tahu....”

Ayahnya memotong. “Sst, Nak. Kita tidak punya waktu untuk itu. Tidak punya waktu untuk permintaan maaf. Kau akan terlambat ke pesta. Sebuah jamuan menunggumu di rumah.”

Forum

[URL=http://idr-clickit.com/register.php/bsoeroso.html][IMG]http://idr-clickit.com/banner1.png[/IMG][/URL]

Demo

Demo
" Salah satu bentuk aspirasi yang disampaikan melalui aksi demo Karyawan ADAM AIR "

" Situasi yang tidak seimbang sehingga masyarakat juga memberikan aspirasi lewat aksi demo "

KOMPAS.com

focusindosukses.com